Refleksi Keluarga Katolik - Ketabahan dalam Hubungan Orang Tua dan Anak

Refleksi Keluarga Katolik: Ketabahan dalam Hubungan Orang Tua dan Anak

Ketabahan yang Terbentuk dalam Relasi Keluarga

Pada suatu hari, ada seorang misionaris Katolik yang berkarya di Jepang pergi ke suatu tempat dengan menggunakan pelayanan jasa kereta api dan duduk di sebelah seorang pria. Ketika tiba saat berdoa, misionaris itu mengambil buku brevirnya dan mulai mendaraskan doa di dalam hatinya. Ia membuka-buka halaman buku brevir yang ditandai dengan suatu gambar Maria yang menggendong Yesus. Karena penasaran melihat gambar kecil yang menjadi pembatas buku, pria itu bertanya kepada sang misionaris, “Itu foto siapa?” Sang misionaris pun menjawab, “Oh itu foto ibu saya.” Si pria kembali bertanya, “Berarti yang digendong itu Anda ya?” Sang misionaris kembali menjawab, “Bukan, itu kakak saya. Memangnya mengapa Anda menanyakan hal ini kepada saya?” Si pria kini menjawab, “Oh tidak, saya hanya terkesan melihat gambar seorang wanita cantik dan seorang anak yang ganteng. Saya kira Si Anak Ganteng itu mewarisi kecantikan ibuNya.” San misionaris pun menjawab, “Anda keliru. Yang terjadi justru sebaliknya. Si Anak Ganteng inilah yang membuat ibuNya menjadi terlihat cantik, karena Ia bukan anak sembarangan. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia.”

Maria dan Yesus dalam Relasi Keluarga

Maria dan Yesus dalam Relasi Keluarga

Kutipan cerita di atas sengaja saya letakkan di bagian awal artikel ini untuk menunjukkan bahwa dalam banyak hal, Maria sebenarnya “kecipratan” karakter positif yang dimiliki oleh Yesus. Dengan pemahaman sederhana seperti itu pula kita akan terbantu untuk menyadari peran penting Maria di dalam sejarah keselamatan. Yang membuat Maria “kecipratan rahmat” itu tentu saja adalah hubungannya dengan Yesus. Hubungan ibu kandung dan anak kandung adalah hubungan yang tak terpisahkan, sehingga di dalam hubungan antara mereka berdua tidak mungkin muncul istilah “mantan ibu kandung” dan “mantan anak kandung.”
Hubungan di antara ibu dan anak merupakan salah satu hal yang paling misterius dan berarti dalam kehidupan setiap manusia, karena ikatan batin yang dialami seorang ibu dengan anak yang dikandungnya tak terhapuskan dalam ingatan emosional. Ikatan itu ditegaskan artinya ketika tali pusar bayi dipotong saat ia dilahirkan. Pengalaman pahit di awal kehidupan ini akan menjadi kenangan yang akan terus dihadirkan, sekalipun tanpa sadar, ketika seorang anak manusia mengalami rangkaian perpisahan lain yang tak terhindarkan, yang akan terus dihadapinya sepanjang kehidupannya. Hubungan keterikatan yang terjalin dengan ibu tentu ikut membentuk membentuk kepribadian anak. Cara seseorang berhubungan dengan dunia, dalam beberapa hal, sebenarnya ditentukan oleh caranya mengalami ikatan batin dengan sosok ibunya.
Hubungan erat antara ibu dan anak dialami juga oleh Maria dan Yesus. Karena alasan ini, dalam ikon-ikon di Gereja Timur, Maria sering digambarkan sebagai seorang wanita yang sedang mengandung atau hamil, untuk menunjukkan bahwa Maria selalu terhubung dengan Sang Putra. Penginjil Lukas menceritakan bahwa ketika para gembala mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem, semua yang mendengar merasa heran tentang hal-hal yang dikatakan oleh para gembala itu kepada mereka (Luk 2: 18). Demikian pula, sebenarnya setiap ibu diajak untuk merasa heran ketika ia menyadari bahwa anaknya semakin menjadi sesuatu yang terpisah dan berbeda darinya. Secara bertahap seorang ibu akan menyadari bahwa anaknya bukanlah miliknya dan ketika hal itu terjadi, ia akan mampu mengalami makna kemurahan hati yang sejati, yaitu ketika ia menyadari bahwa ia telah memberi kehidupan kepada orang lain tanpa kemungkinan untuk mengendalikannya. Bersamaan dengan itu, seorang ibu juga diajak untuk memberi kebebasan kepada anaknya, dan jika ini tidak terjadi, hubungan mereka menjadi tidak sehat karena sikap ibu yang tak pernah melepaskan anaknya secara bertahap akan menghancurkan hubungan itu.
Sebagai seorang ibu, Maria pun mengalami pengalaman perpisahan yang menuntutnya untuk memberikan kebebasan kepada Putranya. Pengalaman seperti inilah yang memungkinkannya menjadi seorang ibu yang sejati. Dalam Luk 2: 19 dikatakan, “Maria menyimpan semua perkara itu dalam hatinya.” Baru di akhir bab ini, tepatnya dalam Luk 2: 51, Lukas menyebut Maria sebagai “ibu,” dan sepertinya hendak mengulangi kata-kata dari ayat 19, karena di sana ia menulis: “IbuNya menyimpan semua hal ini dalam hatinya.” Apa yang terjadi sepanjang ayat-ayat ini? Apa yang terjadi di dalam kehidupan Maria yang sungguh menjadikannya seorang Ibu?
Ternyata ada tiga situasi yang mewakili tiga tahap perjalanan perkembangan seseorang. Tiga situasi ini adalah kunjungan para gembala ke Betlehem, nubuat Simeon dan ditemukannya Yesus di Bait Allah. Tiga hal ini tampaknya menunjukkan dengan jelas bahwa secara perlahan-lahan kehidupan Yesus terlepas dari kendali Maria, hingga ia menemukannya di tempat yang tidak terduga. Ketika Maria dan Yosef menyadari bahwa Yesus tidak pulang bersama mereka, ia ikut mencariNya di antara kerabat dan teman-teman, di tempat yang dibayangkannya. Baru setelah tiga hari, ketika ia merasa kecewa dan sedih, ia menemukan Yesus di tempat yang tidak tidak, di Bait Suci. Pada saat itu ia menerima kenyataan bahwa kehidupan Putranya bisa seperti ini. Pada saat itulah Maria menjadi seorang ibu! Demikian juga setiap orangtua bisa menjadi seorang ibu atau ayah ketika mereka bersedia melihat anak-anak mereka di tempat yang tidak mereka duga.
Terjemahan Alkitab di dalam Bahasa Indonesia menggunakan satu kata “menyimpan” untuk menggambarkan tindakan Maria di Luk 2:19 dan Luk 2: 51. Sebenarnya, dalam teks asli berbahasa Yunani, di ayat-ayat itu digunakan dua kata yang berbeda. Tanpa perlu menjelaskan uraian tafsir yang berat, saya hanya ingin menyampaikan bahwa dalam Luk 2: 19, kata “menyimpan” bernuansa aktif, seperti seorang pemilik modal yang berusaha menyimpan dan menjaga asetnya. Sementara itu, dalam Luk 2: 51, kata menyimpan bernuansa pasif, seperti suatu celengan yang menyimpan uang yang ditaruh di dalamnya. Perbedaan tipis ini sebenarnya menunjukkan bahwa ada perkembangan di dalam diri Maria, sekalipun ia melakukan sesuatu yang tampaknya sama. Perjalanan Maria dimulai dengan keinginan untuk menjaga karya Tuhan dengan waspada dan bertanggung jawab, tetapi sedikit demi sedikit ia menyadari bahwa Tuhan memintanya untuk menerima hal yang terus dilakukanNya dalam dirinya dan di dalam kehidupan Putranya. Itulah jalan yang selalu ditawarkan di dalam kehidupan kita, yaitu jalan kepercayaan, yang tidak menghilangkan tanggung jawab kita, tetapi mengajak kita untuk mengenali Sang Pencipta.

ilustrasi pembatas buku - Ketabahan yang Terbentuk dalam Relasi Keluarga

Dinamika Hubungan dan Konflik dalam Keluarga

Keluarga adalah tempat awal pembentukan karakter diri dan hidup di dalam keluarga pada masa kini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Sekarang ini, memilih untuk berbagi hidup dengan orang lain dan membesarkan anak adalah hal yang lebih menantang jika dibandingkan dengan situasi pada masa lalu. Di balik keindahan cinta, ternyata ada juga perjalanan pembebasan dari egoisme diri. Hal ini bisa dirasakan saat orang dituntut untuk terlibat berbagi ruang dengan mengesampingkan kebutuhan sendiri. Hal ini semakin terasa dengan kehadiran anak-anak yang membuat kehidupan keluarga menjadi lebih menuntut, karena melibatkan tanggung jawab terhadap kehidupan orang lain, tanggung jawab untuk merawat orang lain yang lebih rapuh. Dalam situasi seperti ini orang diajak melihat bahwa orang lain bisa berubah, bisa sakit dan bahkan bisa meninggalkannya. Di sinilah ketabahan terbentuk dan diuji.
Sambil memperhatikan situasi keluarga-keluarga masa kini, kita tidak bisa menyangkal bahwa keluarga sering menjadi tempat konflik atau menjadi ruang terungkapnya luka-luka kehidupan yang membawa rasa sakit. Keluarga adalah tempat kita ingin dicintai, tetapi sayangnya kenangan kita sering membawa kita kembali ke masa lalu ketika kita merasa tidak dimengerti oleh orang lain. Meskipun demikian, perkembangan manusia bisa terjadi melalui konflik antara orang tua dan anak. Di satu sisi, orang tua ingin agar anak-anak mereka memenuhi harapan mereka, mereka melihat diri mereka sendiri di dalam kehidupan anak-anak mereka, mereka ingin anak-anak mereka menjadi seperti ini atau itu dan di sinilah mereka berjuang untuk menerima keunikan anak-anak mereka. Di sisi lain, anak-anak perlahan mulai membedakan diri dari orang tua mereka dan mencoba menemukan jalan mereka sendiri. Dalam situasi seperti ini, anak-anak bisa merasa tidak dicintai oleh orang tua mereka seperti yang mereka inginkan.
Di balik segala tantangan yang terjadi, biasanya keluarga tetap berusaha menjawabi kebutuhan untuk memiliki dan untuk merasa nyaman seperti yang kita inginkan. Keluarga adalah tempat yang akan kita kunjungi kembali, terlepas dari semua kekurangannya. Keluarga adalah tempat seorang anak merasa terlindungi karena setiap orang tua, betapapun banyaknya kesalahan yang mereka buat, selalu ingin membela anaknya.
Dalam situasi seperti ini, hal yang perlu diwaspadai adalah adanya anggota keluarga yang melupakan keluarganya. Tanpa adanya suatu alasan yang kuat dan memadai, sikap seperti ini sebenarnya mencerminkan suatu tindakan yang kurang sehat, karena seseorang tidak akan berkembang sebagai manusia jika ia melupakan asalnya. Dalam hal ini, sebagai contoh, memperhatikan atau merawat anggota keluarga yang lebih lemah dengan penuh ketabahan justru menjadi kesempatan untuk menyembuhkan luka batin, meredakan konflik dan memperbaiki ikatan yang rusak. Akhirnya, sekalipun saat ini keluarga tampak sebagai lembaga yang usang, sebenarnya di sana terungkap kearifan alami yang mungkin lebih bijaksana daripada penalaran kita tentang hal yang sebenarnya kita butuhkan.

Romo Albertus Indra, OCD

Bangun dan Bangkit dalam Kehidupan Iman

“Beberapa waktu kemudian, berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.” (Luk 1: 39-40)

Ketika kita merasa kecewa, lelah dan tak berdaya, kita berisiko kehilangan semangat untuk bangkit kembali. Ketika dunia runtuh, ketika orang lain membebankan masalah mereka kepada kita, kita berisiko terjebak dan tak bisa maju. Dalam situasi seperti ini, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain mencoba bangkit. Untuk bisa seperti itu, kita tidak perlu mengetahui secara tepat arah mana yang akan kita tuju. Yang penting untuk kita adalah usaha agar kita jangan sampai tertinggal. Selanjutnya, nanti kita lihat lagi.
Jika kita memang sedang berada dalam situasi seperti ini, marilah kita melihat sosok Maria dan belajar darinya. Ia adalah seorang wanita yang berkebutuhan khusus, karena walaupun ia adalah seorang perawan, ia sedang mengandung anak pertama. Ini pengalaman yang belum pernah dialaminya. Karena itu tidak berlebihan rasanya jika ia disebut berkebutuhan khusus. Meskipun demikian, ia adalah seorang wanita tabah yang tak mengenal menyerah. Sekalipun ia menyadari bahwa dirinya adalah seorang wanita berkebutuhan khusus, ia memilih untuk pergi melayani Elisabet yang lebih berkebutuhan khusus, karena ia juga mengandung anak pertama justru pada masa tuanya, ketika tubuhnya yang renta menjadi semakin rapuh. Untuk itu, Maria memutuskan untuk bangun dan bangkit. Tindakan Maria ini seolah-olah mengundang umat beriman untuk berani bangun dan bangkit karena di sanalah ketabahan diri ditampilkan.
Undangan untuk bangkit ini adalah kata-kata yang sering digunakan oleh Tuhan Yesus untuk berbicara kepada orang-orang yang hendak disembuhkanNya. Mungkin sekali Yesus mengenal baik kata-kata ini karena Ia melihat tindakan ibuNya dan dari sana Ia mempelajari sesuatu. “Bangunlah” adalah kata yang diucapkan oleh Yesus kepada orang lumpuh dalam Injil yang tidak lagi percaya kepada kemampuan dan sumber dayanya (Yoh 5). Bangun berarti bangkit dari reruntuhan diri sendiri, meninggalkan posisi orang mati dan mengambil posisi orang yang telah bangkit. Yesus bangkit dari kubur agar kita semua dapat melakukan seperti yang dilakukanNya.
Dengan demikian, “Bangunlah dari ketakutanmu! Bangkitlah dari pikiran-pikiran yang menghancurkanmu! Bangkitlah dari kekecewaanmu!” Hanya dengan cara inilah kamu akan menyadari bahwa kehidupan selalu bisa dimulai kembali, karena tak ada sesuatupun yang sudah terlanjur yang tak bisa digunakan lagi.

Oleh :
Romo Albertus Indra, OCD

 

Tim Pelayanan Perpustakaan

Bidang Paguyuban  dan Persaudaraan

Share:

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn

Berita dan Kegiatan

Oase

Kumpulan Doa

Cerita Santo Santa