KARANGANYAR, Parokipalur.com – Ketika saya tiba, halaman belakang Gereja St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga Paroki Palur tampak ramai dan penuh. Ratusan umat berkumpul dengan penuh suka cita, berjejal mengantri di stand makanan umkm dan di depan panggung paten di atas kolam yang tidak saya ketahui apakah masih ada ikan atau tidak di dalamnya. Sorot lampu panggung warna-warni tampak meriah dengan sound system yang lumayan apik dan menggema tanpa dengung.
Di atas panggung sana, dua pembawa acara gadis remaja, Elen dan There terdengar nyaring menyambut para penampil acara HUT Paroki Palur ke 21 tahun, Sabtu (28/09/2025). Usia yang cukup muda untuk suatu paroki di pinggir wilayah Karanganyar. Namun, saya yakin dibalik usia 21 tahun ada banyak sejarah yang telah tercatat.
Suasana Meriah di Halaman Gereja
Beberapa deret kursi di hadapan panggung, diisi oleh para umat dengan seorang romo paroki yang tak sungkan membaur meskipun baru saja tinggal kurang lebih 2 bulan lamanya. Romo Fransiskus Yunarvian Dwi Putranto Pr. atau lebih sering disapa Romo Yuyun. Ia terlihat mengenakan kaos berkerah warna hitam, duduk disamping umat yang bisa saja saya kira salah seorang anak muda. Ia membaur dengan umat, dengan senyum yang merekah dan sorot mata yang berbinar.
Dalam satu penampilan yang terlihat menarik perhatian saya, dua remaja laki-laki dengan gagah keluar dari basement gereja. Kostum tari dengan rias wajah yang artistik, mencuri perhatian adik-adik pia di pinggir panggung. Beberapa diantaranya penasaran ingin memegang properti tameng sambil melongo menyaksikan.
Tari Tradisi Beksan Wireng Bondoboyo
Penari remaja itu adalah Panji Satrio Pamungkas, usianya 14 tahun, salah seorang remaja dari Lingkungan Sisilia. Ia bersama salah seorang temannya dari Sanggar Tari Suryo Sumirat, Excel Bintang Jostian membawakan sajian pertunjukan Tari Beksan Wireng Bondoboyo. Remaja berperawakan tinggi tersebut mengaku sudah berlatih 4 bulan lamanya. Saya sangat mengapresiasi sajian pertunjukan tradisi yang ia bawakan.
Acara Pentas Seni HUT Paroki Palur ini tidak sekedar menjadi momen kumpul dan pesta umat saja, tetapi menjadi ruang serta panggung kreatif. Anak muda seperti Panji mendapat kesempatan unjuk gigi atas kecintaan tari tradisi dan gereja menyediakannya. Saya berharap penuh, gereja senantiasa membuka kesempatan dan peluang lebih luas lagi kepada umat-umat katolik yang menjadi pelaku seni.
Penampilan Band dan Partisipasi Umat Segala Usia
Setelah menyajikan tari tradisi, penampilan selanjutnya adalah band musik yang dibawakan oleh pria-pria muda gen milenial dengan seorang penyanyi perempuan gen z. Mereka menamakan dirinya sebagai Universe Band. Lagu yang mereka bawakan cukup random, mulai dari Yellow – Coldplay, Tinggalkan – Kotak, hingga lagu Sanes medley Nemen. Beranggotakan 5 orang, Vero sebagai vokalis, Bayu sebagai bassist, Punto sebagai gitaris, Andika sebagai drummer dan Yohan sebagai gitaris melodis. Para umat sibuk merekam sembari menikmati penampilan mereka. Mungkin masih sedikit malu-malu kalau berjoget di depan panggung.
Saya kembali menyusuri jalur paving halaman gereja. Ibu-ibu duduk di tangga lonceng gereja, lainnya duduk mengemper di lantai panti paroki. Anak muda sibuk menggerombol dengan lilitan kain di samping panggung. Sesekali saya lihat mereka wira-wiri membeli jajanan. Di dekat tembok pembatas taman doa dengan panggung, bapak-bapak berdiri disana. Beberapa diantaranya memang mengemban tugas jaga parkir. Sebagian lagi sabar menunggu pengumuman lomba tenis meja.
Saya mengutip dari lembaran kertas pengumuman pemenang dari panitia. Satu persatu cabang perlombaan dibacakan pemenangnya, mulai dari lomba tenis meja, memasak nasi goreng, paduan suara, catur hingga lingkungan yang umatnya paling aktif menggereja. Sayang sekali saya luput mencatat siapa saja pemenangnya, karena saya sibuk mengantri stan es teh yang harganya dua ribu rupiah. Saya tidak bohong, harganya terbilang murah untuk segelas es teh berukuran besar.
Kembali, saya ikut membaur duduk bersama ibu-ibu di bawah lonceng. Menyaksikan anak-anak kecil PIA tampil di atas panggung. Gerakannya mungkin tidak serentak, tapi para pendamping justru terlihat ekspresif memberi contoh gerakan di antara para umat yang sibuk merekam.
Tak hanya itu, penampilan solo drummer oleh seorang anak laki-laki turut memeriahkan panggung acara. Beberapa lagu dibawakan, hitung-hitung melatih mental. Para umat yang duduk di depan panggung nampak setia menyaksikan, sembali menanyakan anak siapa yang tengah tampil sendirian. Menurut rundown acara, nama drummer muda yang duduk di bangku sekolah dasar itu adalah Paundra Sena, putra dari Pak Adit dan Bu Ola.
Apresiasi untuk Komunitas dan Lingkungan Paroki
Penampilan solo instrumen tidak hanya dibawakan oleh Paundra saja. Jika Paundra adalah wakil anak-anak, Saka adalah wakil remaja paroki palur. Selain aktif sebagai anggota komsos, kini ia ikut serta di atas panggung membawakan tiga alunan lagu dengan biola kesayangannya. Saka nampak dramatis membawakan lagu Ave Maria, Can’t Help Falling in Love. Sambil sesekali dilempar candaan dari para umat, untuk siapa lagu itu ia bawakan. Namun, ia mengaku, lagu Ave Maria adalah bentuk cintanya kepada bunda maria sebagai perantara doa-doanya. Sedangkan lagu lainnya, entah untuk siapa, dia menjawab malu-malu.
Sajian penampilan lainnya adalah paduan suara remaja. Jika tadi saya menulis bahwa para remaja sibuk melilit kain di pinggangnya. Ternyata dengan corak kain yang beragam tersebut, merupakan hasil kesepakatan sebagai kostum ‘berseragam’ untuk penampilan paduan suara dengan tembang dolanan, Padang Bulan. Jumlahnya terlampau banyak, hingga memenuhi panggung.
Jika penampilan para remaja tersebut berhasil memenuhi panggung dan mendapat tepuk tangan yang meriah, para penampil ibu-ibu berbaju merah muda berhasil mendapat sorakan ‘Cherrybelle’ dengan kostum yang nyentrik dan eyecatching. Beranggotakan delapan orang ibu-ibu muda paroki palur, Madona dance terlihat memukau dengan gerakan kaki yang lincah serta rok ungu yang terbang dan bergoyang. Gerakannya kompak, serentak, dan apik. Saya tidak tahu berapa lama mereka harus berlatih, diantara jadwal padat mereka sebagai ibu-ibu rumah tangga. Namun, yang jelas, bulu mata badai serta eyeshadow ungu menjadi bukti bahwa eksistensi dan antusias ibu-ibu untuk menyemarakan ulang tahun gereja tidak perlu ditanyakan lagi. Mereka sangat percaya diri dan menyenangkan
Makna HUT Paroki: Merayakan Kebersamaan dan Pelayanan
Acara yang berlangsung meriah tidak mungkin ditutup dengan pertunjukan yang biasa-biasa saja. Band dengan personil bapak-bapak senior dari lingkungan Aloysius Gonzaga kembali naik ke panggung. Menggerakkan para umat untuk bergabung dan berjoget di bawah panggung. Lagu hits Tambal Ban – Lorenza hingga lagu Jogja Istimewa yang diubah liriknya menjadi Palur Istimewa kembali dibawakan.
Mereka sampai menyiapkan beberapa penyanyi guna memberi warna suara yang beragam. Orang tua, muda, anak kecil hingga kakek nenek yang sudah bercucu, melebur joget bersama. Tak segan mereka melompat-lompat kecil sambil merangkul rekan lainnya.
Setelah lagu terakhir dinyanyikan, Elen dan There sebagai pembawa acara kembali naik ke panggung. Jika di tengah acara mereka mengumumkan para pemenang lomba HUT Paroki Palur. Mereka kembali mengumumkan lomba tahunan atau ajang penghargaan serta apresiasi kepada lingkungan paling aktif ‘menggereja’. Piagam bergilir tersebut berhasil dibawa pulang oleh umat lingkungan Aloysius Gonzaga. Piagam tersebut bukan semata-mata sebagai perlombaan yang menonjolkan para pemenang. Melainkan, sebagai bentuk apresiasi gereja kepada para umat yang senantiasa setia guyup dan ikut serta aktif menggereja. Saya menanggapinya sebagai hal positif dan upaya gereja untuk mendorong umat supaya aktif dalam pelayanan dan melayani (Natalia Dewayanti).
Liputan:
Natalia Dewayanti
Dokumentasi:
Tim Pelayanan Komsos Paroki St. Maria Diangkat ke Surga – Palur














