Rabu Abu, Awal Pertobatan Menuju Paskah - Paroki Palur

Rabu Abu: Awal Pertobatan Menuju Paskah

Lingkaran Paskah

Gereja Katolik memiliki dua perayaan besar, yaitu Natal dan Paskah. Tak bisa dipungkiri pamor perayaan Natal lebih tinggi daripada perayaan Paskah. Padahal sebenarnya puncak dari seluruh iman Kristiani adalah Paskah.

Paskah menjadi puncak karya keselamatan Allah melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Perayaan Paskah dilaksanakan dalam Lingkaran Paskah yang terdiri dari:

  1. Masa Prapaskah,
  2. Pekan Suci (Tri Hari Suci), dan
  3. Masa Paskah.

 

Masa Prapaskah dimulai dari Hari Rabu Abu hingga Jumat Agung. Sedangkan Pekan Suci merupakan masa antara Minggu Palma hingga Minggu Paskah, yang di dalamnya memuat Masa Tri Hari Suci; Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah. Sedangkan Masa Paskah merupakan masa antara Minggu Paskah hingga Hari Raya Pentakosta. Masa Prapaskah selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu), Pekan Suci selama satu minggu dan Masa Paskah selama 50 hari.

Dalam tulisan singkat kali ini akan dibahas mengenai Hari Rabu Abu sebagai awal dari Masa Prapaskah sekaligus awal dari seluruh Lingkaran Paskah.

Rabu Abu Masa Prapaskah - Paroki Palur

Rabu Abu

Sebagaimana namanya, Rabu Abu dilaksanakan pada Hari Rabu tepat 40 hari sebelum Minggu Paskah tidak termasuk hari Minggu. Perhitungan 40 hari melambangkan masa persiapan.

Dalam Alkitab angka 40 menjadi angka yang melambangkan persiapan. Musa melakukan persiapan selama 40 tahun di Midian sebelum mendapat panggilan Tuhan mengeluarkan Bangsa Israel dari Tanah Mesir. Musa juga mendampingi Bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun sebelum masuk ke Tanah Terjanji.

Tuhan Yesus sendiri berpuasa di padang gurun selama 40 hari sebelum memulai karyaNya (Mat 4:2). Demikianlah, angka 40 hari menunjuk pada masa persiapan sebelum Hari Raya Paskah. Hitungan 40 hari tidak termasuk Hari Minggu karena Hari Minggu adalah Hari Tuhan.

Di masa persiapan selama 40 hari menjelang Hari Raya Paskah, umat diharapkan mempersiapkan diri dengan membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan, sehingga layak merayakan Hari Raya Paskah sebagai puncak karya keselamatan Allah. Demikianlah, masa persiapan 40 hari itu disebut sebagai masa pertobatan. Unsur pertobatan itulah yang dilambangkan dengan penggunaan abu dalam perayaan Hari Rabu Abu. Abu adalah tanda pertobatan yang umum dalam Alkitab.

Dalam Yunus 3:6-9, Niniwe bertobat dengan mengenakan abu dan kain kabung. Sedangkan Daniel berdoa dengan puasa dan abu (Dan 9:3). Penggunaan abu juga mengingatkan kita semua bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu (Kej 3:19; Pengkotbah 3:20).

Rabu Abu, Awal Pertobatan - Paroki Palur

Bertobatlah dan Percayalah Kepada Injil

Suatu hari saat saya masih kecil, rumah kami akan dikunjungi oleh Romo Paroki. Dua hari menjelang jadwal kunjungan itu, ibu saya mengajak kami sekeluarga untuk bersih-bersih rumah agar dirasa layak menerima tamu rama paroki. Karena rumah kami tidak begitu besar, saya dan kakak saya sering menggunakan ruang tamu untuk belajar.

Ketika belajar kami sering sambil nyemil jajanan dan tak jarang kami menaruh bungkus jajanan itu di meja ruang tamu atau di bawah kursi tanpa langsung membuangnya di tempat sampah. Karenanyalah ketika bersih-bersih rumah, ibu saya menemukan banyak bungkus jajanan di ruang tamu. Ibu saya membersihkan dan membuang ke tempat sampah.

Hari H kunjungan romo paroki ke rumah kami, ibu saya yakin ruang tamu sudah bersih dan siap menerima kunjungan romo, suguhan juga sudah siap. Sore hari rama paroki kami berkunjung. Dalam kunjungan kami ngobrol-ngobrol dan berdoa. Ketika ngobrol-ngobrol, romo paroki kami secara tidak sengaja menemukan bungkus jajanan di bawah kursi dan itu membuat ibu saya agak malu. Padahal dua hari yang lalu sudah dibersihkan kok masih ada bungkus jajanan di bawah kursi. Memang sudah dibersihkan, tapi setelahnya ruang tamu itu tetap masih digunakan untuk belajar sambil nyemil. Karena sudah kebiasaan kami belajar sambil nyemil dan sambil nyampah.

Dari pengalaman sederhana tersebut, nampak bahwa membersihkan saja tidak cukup. Dibutuhkan perubahan habitus. Percuma dibersihkan terus kalau masih ada habitus membuang sampah sembarangan.

Inilah arti pertobatan sebenarnya. Pertobatan tidak hanya soal membersihkan diri dari dosa dengan pengakuan dosa dan sakramen tobat. Pertobatan juga adalah usaha untuk mengubah habitus berdosa. Mengubah atau menghilangkan habitus berdosa inilah yang menjadi inti pokok masa Prapaskah.

Gereja membantu dengan menentukan cara yang jitu untuk mengubah atau menghilangkan habitus berdosa, yaitu dengan menjalankan Aksi Puasa Pembangunan (APP). APP dijalankan dengan puasa, pantang, merenungkan bahan APP, serta melakukan perbuatan amal kasih. Selamat memasuki Masa Prapaskah dengan mengikuti Perayaan Ekaristi Rabu Abu.

Oleh :
Fransiskus Yunarvian, Pr  –  (Romo Yuyun)

Tim Pelayanan Perpustakaan

Bidang Paguyuban  dan Persaudaraan

 

Tim Dokumentasi :
Komsos Paroki Palur

Share:

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn

Berita dan Kegiatan

Oase

Kumpulan Doa

Cerita Santo Santa