Kabar duka menyelimuti suasana malam pada Kamis, 15 Januari 2026 yang dibagikan antar umat melalui saluran whatsapp. Tidak ada yang mengira hari itu dipilih oleh Tuhan, menjadi hari kepulangan Romo Yohanes Suwarna Sunu Siswoyo Pr, ke sisi Bapa. Jelas ini sangat mengejutkan bagi para umat, mengingat Romo Sunu adalah salah satu romo yang pernah berkarya di Paroki Palur. Tiga tahun lamanya Romo Sunu mengemban perutusan sebagai seorang pastur paroki palur.
Sekitar lima bulan lalu, yakni di bulan agustus tahun 2025, rombongan umat palur baru saja melepas kepergian Romo Sunu di tempat pelayanannya yang baru, di Paroki Gamping. Namun, rasanya baru saja mengantarnya, kini kami harus mendengar kabar yang cukup memukul. Kehadiran Romo Sunu tiada lagi di tengah umat, bukan hanya di Paroki Palur. Namun, di ujung peziarahan hidup.
Besar kasih dan cinta dari para umat, hari Sabtu (17/01) sebanyak dua rombongan bus ukuran besar serta beberapa kendaraan pribadi memberangkatkan puluhan umat dari gereja palur menuju ke Kapel Seminari Tinggi Kentungan. Umat berbondong-bondong mengikuti misa requiem Romo Sunu yang dilaksanakan pada pagi hari menjelang siang.
Misa Requiem Romo Sunu, Umat Mengantar dengan Doa
Di depan kapel, terdengar lagu-lagu gregorian dibunyikan. Semerbak wangi bunga mulai tercium di dalamnya. Tak ada yang berani menciptakan suara disana, kecuali bunyi langkah sepatu.
Kehadiran para umat perlahan memenuhi bangku-bangku kapel. Satu persatu umat berlutut dan naik ke altar, menyaksikan wajah sang romo untuk terakhir kalinya. Bisik-bisik terdengar dari salah seorang umat,
“Wajahnya terlihat tenang, seperti sedang tidur,” katanya usai berdoa dan memandangi wajah Romo Sunu.
Gembala Tuhan, yang telah Menuntaskan Panggilannya
Di bawah salib yang tergantung di langit kapel itu, terbaring seorang gembala Tuhan, yang telah menuntaskan panggilannya menjadi seorang imam.
Seorang romo yang penuh kasih dan dicintai umatnya. Sepanjang kehadirannya menghangatkan suasana di tengah umat.
Ia terbaring dengan tenang, berpakaian kasula dan sepasang sepatu hitam. Sama seperti pakaian yang ia kenakan ketika mempersembahkan perayaan ekaristi sepanjang hidup perutusannya.
Peti mati warna putih itu jadi tujuan arah pandang. Umat duduk memandang dengan lamunan, sayup-sayup terdengar cerita umat tentang kenangan bersama Romo Sunu. Peti sang romo dihias bunga-bunga altar, wanginya bisa tercium hingga beberapa meter. Dibagian sisi altar, beberapa ranjang bunga tabur sudah disiapkan. Menghias salib bertuliskan,
RIP
Rm. Yohanes Suwarna Sunu Siswoyo Pr,
Lahir : 31-12-1960 Wafat : 15-01-2026
Romo Sunu wafat dua minggu setelah ulang tahunnya yang ke 65 tahun.
Perayaan Ekaristi Requiem bersama Bapa Uskup dan puluhan imam
Pukul 10.00 Perayaan Ekaristi Requiem dimulai, bersama Bapa Uskup, Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan puluhan imam yang ikut menghantarkan. Romo Rm. Yakobus Sudarmadi, Pr, salah seorang teman seangkatan Romo Sunu di Mertoyudan tahun 1976, berkesempatan membagikan kisahnya bersama Romo Sunu.
Kisahnya cukup panjang. Kilas balik tentang pertemanan sejak 50 tahun yang lalu. Namun, inti dari pembicaraannya tak jauh dari kemurahan hati Romo Sunu.
Di akhir Misa Requiem, Bapa Uskup sempat menceritakan tawarannya kepada Romo Sunu, tentang tugas perutusannya,
“Romo, sekarang memilih dua hal, tetap bertahan di (Paroki) Palur namun seorang diri atau pindah tempat bersama romo yang lain?”
Dengan tegas dan yakin, sang romo menjawab tetap bertahan di Paroki Palur, meskipun seorang diri. Bapa Uskup menyadari, tentang kesungguhan Romo Sunu menjadi seorang imam. Sang Romo selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk umatnya, hingga akhir hayatnya.
Bapa Uskup kembali bercerita. Sebelum kepulangan Romo Sunu ke rumah Tuhan, sang romo sudah berencana untuk mengikuti kegiatan bersama para relawan di Boro. Meski menahan sakit dan tubuhnya melemah, ia tetap mempersiapkan diri untuk keberangkatannya. Namun sayangnya, sang romo tergeletak dan ditemukan membawa alat saturasi oksigen di tangannya
Lantunan doa dan bunyi lonceng mengiringi kereta jenazah
Ketika matahari tepat di atas kepala, lonceng gereja di bunyikan. Peti putih berhias bunga itu dibawa, diletakkan suatu kereta beroda empat. Lantunan doa dan bunyi lonceng bersahutan, mengiringi kereta jenazah yang di dorong dari depan kapel menuju halaman belakang, pemakaman. Para umat terlihat tak gentar, meski tersengat terik matahari yang cukup membakar. Mereka dengan niat penuh mengantarkan sang romo ke tempat peristirahatan.
Di pemakaman, terlihat lubang galian makam yang sudah selesai di persiapkan. Disana telah terbaring beberapa tahun lalu, tempat peristirahatan Romo Joko Sistiyanto, beliau adalah teman satu angkatan Romo Sunu.
Tepat di atas makamnya, diletakannya peti Romo Sunu. Diberkati peti kayu berwarna putih itu, sebelum akhirnya dikuburkan.
Prosesi pemakamannya terbilang cepat, setelah doa didaraskan, jenazah mulai dikuburkan. Dituang beberapa ember adukan semen dan pasir. Sebelum akhirnya gundukan tanah kembali dimasukkan ke liang lahat.
Berpulang ke Rumah Bapa, Romo Yohanes Suwarna Sunu Siswoyo Pr
Tak sedikit air mata yang tumpah, menyaksikan peristirahatan terakhir sang romo kesayangan. Di permukaan makam, bunga tabur terlihat segar dan bewarna warni, tetapi hati umatnya terasa membiru. Tidak akan ada lagi wajah ceria dan jiwa murah hati yang bisa kita temui pada sosok Romo Sunu.
Para umat bergiliran menabur bunga. Tanah coklat itu perlahan tertutup dengan kelopak-kelopak mawar. Makamnya mulai tercium harum. Nisan salib kayu ditancapkan di ujung makamnya, menandakan bahwa ditempat inilah terbaring Romo Sunu. Para umat terlihat berbagi celah untuk mengambil gambar, mereka saling bergantian meski dalam keheningan.
Usai pemakaman, para umat mulai beranjak pergi, meninggalkan makam wangi dengan beberapa orang di sana. Mungkin keluarga dan para petugas.
Setelah prosesi pemakaman dan perjamuan makan siang, para umat memutuskan untuk kembali pulang.
Sepanjang perjalanan, air hujan mulai turun cukup deras. Tidak ada yang menduga akan turun hujan, meski tanpa tanda-tanda mendung.
Air hujan menyirami perjalanan pulang para umat, seolah-olah Tuhan memberi tanda dan harapan bahwa ‘kepulangan’ merupakan proses berpindah yang penuh ‘kesejukan’. Mungkin hujan adalah tanda dari Tuhan, bahwa Ia ingin hati umatNya lebih ikhlas dan adem setelah mengantarkan pulang sosok yang dicintai, Romo Sunu, kembali kepadaNya.
Selamat Jalan Romo Sunu, Terimakasih atas pelayanan 3 tahun di Paroki Palur.
Liputan:
Natalia Dewayanti
Dokumentasi:
Tim Pelayanan Komsos Paroki St Maria Assumpta – Gamping














