A. Gema Perjalanan Panggilan dalam Sejarah Hidupku
Tanggal 26 Desember 1939, terjadilah perkawinan antara Marcelina Kemi (18 tahun, baptisan baru) dan Matius Sarpan (34 tahun, orang katolik awal) di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, Yogyakarta di hadapan Rm. Alb. Soegijopranoto, SJ. Karena keduanya masih ada hubungan saudara (sepupu), maka harus dimintakan dispensasi dari halangan nikah hubungan darah garis menyamping tingkat IV. Pada waktu itu Romo Soegijo sudah “manti-manti” bahwa itu nanti mesthi ada resikonya yang cukup berat. Namun Romo Soegijo berkenan memintakan dispensasi. Tetapi nanti kalau ada sesuatu, beliau tidak bertanggung jawab, silahkan ditanggung sendiri. “Dak suwunke dispensasi, nanging yen mengko ana apa-apane yaa mbuh lho yaa!”(Saya mintakan dispensasi, tapi jika nanti ada sesuatu, saya tidak tahu menahu lho yaa!).
Terlaksanalah perkawinan bapak-ibu saya itu, dan memang terjadi sungguhan bahwa resiko-resikonya harus ditanggung oleh keluarga bapak-ibu saya. Akibatnya memang nyata: anak I sampai ke IV meninggal semua ketika masih bayi. Anak ke V hidup dan anak ke VI meninggal lagi. Namun bapak-ibu saya tidak putus asa, sehingga lahirlah anak no. 7 di tahun 1956 selamat bisa hidup dan lalu diberi nama “Slamet Niati”. Terus berharap untuk dapat mempunyai anak lagi dan berharap ada anak laki-laki, maka terus berdoa dan memohon dan akhirnya lahirlah anak no.8 (laki-laki) pada tahun 1960. Tahun 1963 lahirlah anak no.9 (perempuan) lagi. Saya adalah anak no.8 kalau dihitung termasuk yang meninggal, sedangkan kalau dihitung dari yang hidup menjadi anak no.3 (tiga) dan satu-satunya anak laki-laki.
Menarik saya ceritakan ketika simbok (pangilan ibu dalam bahasa jawa) saya mengandung saya dan berharap mempunyai anak lali-laki. Pada waktu “melayat” pemindahan kerangka jenasah Rm. Strater dari Jakarta ke Yogyakarta (Bintaran), simbok saya melayat dan memegang peti jenasah Rm. Strater dan dalam hati bernazar/berjajnji kalau yang dikandung ini laki-laki, “Nanti kalau Tuhan ‘ngersakke’, sumangga” (jika Tuhan menghendaki, akan saya ikhlaskan). Dan benarlah lahirlah saya ini yang laki-laki, maka ketika dibaptis saya diberi nama permandian JOHANES (anugerah dari Tuhan yang maha penyayang) “thok” tanpa tambahan di belakangnya. Saya tidak tahu kenapa sekarang mempunyai tambahan Berchman di belakangnya.
Ketika saya menginjak SMP dan menjadi misdinar, ada pengumuman pendaftaran masuk Seminari Mertoyudan. Seolah-olah semua anggota misdinar wajib/otomatis harus mendaftar masuk Semiari Mertoyudan. Tidak terkecuail saya, yang juga ikut mendaftarkan gelombang pertama tapi gagal karena tidak mendapat ijin dari orang tua. Tidak tahu kenapa ketika ada gelombang kedua saya mencoba lagi untuk minta ijin orang tua. Atas dorongan Rm. Jonkbloedt SJ, orang tua saya mengijinkan dan saya mendaftar sendirian ke Mertoyudan. Akhirnya saya diterima dan menemani teman-teman saya yang sudah diterima pada gelombang pertama (2 orang). Pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan saya tekuni seiring waktu berjalan.
Selesai dari Seminari Menengah Mertoyudan, saya memilih untuk masuk menjadi Romo Projo Keuskupan Agung Semarang. Satu bulan setelah saya masuk Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan (Juli 1980) tiba-tiba bapak saya terkena penyakit “stroke”.
Perjalanan panggilan terus berjalan dan akhirnya sampailah pada Tahbisan Imam tanggal 19 Juli 1988 di gereja Ganjuran untuk acara puncak Peringatan Tumbuk Agung (64 tahun) gereja Ganjuran dimana bapak saya tidak dapat mendampingi karena masih sakit. Bapak saya meninggal tanggal 25 November 1990. tahun 1990.
B. Hal-Hal yang Menggelitik dalam Benih Panggilan
Pertama
Ketika saya masih kanak-kanak, ketika ditanya oleh orangtua saya: “Besuk yen gedhe pengin dadi apa?” (kalau sudah besar mau jadi apa?). Karena saya selalu melihat pilot-pilot yang latihan terbang di daerah saya, lalu saya jawab bahwa saya ingin menjadi PILOT. Eeeeh.. lha kok sekarang beneran sekarang jadi pilot (sopir) umat Dalem Gusti.
Kedua,
Ketika masih kanak-kanak saya senang menggunakan bawahan rok lungsuran dari kakak-kakak perempuan saya (maklum saya satu-satunya anak laki-laki). Lalu diperingkatkan oleh orang tua saya: “Railok cah lanang kok seneng nganggo rok!” (Tidak baik anak laki-laki suka memakai rok). Lalu saya jawab dengan enthengnya: “Yoo ben taa, aku iki Romo Seti kok!” (Biarlah, aku ini kan Romo Seti!). Padahal yang namanya Romo Seti itu tidak ada sampai sekarang ini, itu hanya Romo angan-angan saja. Bahkan sampai sekolah kelas I SD saya masih sering menggunakan rok, namun kemudian karena malu dengan teman-teman dan sering diejek, maka saya baru mau menggunakan celana pendek seperti teman-teman yang lain.
Ketiga
Ketika bapak saya mengunjungi saya di Seminari Mertoyudan, bapak saya bertemu dengan Bpk. Kardinal Yustinus Darmoyuwono (alm.), bapak ditanya oleh Bp. Kardinal.
Bp. Kardinal: “Lhooh kok sampeyan tekan kene, nileki sapa? (Lhooh kok kamu sampai sini, mengunjungi siapa?)
Bapak saya: Tilik anak kula! (Mengunjungi anak saya)
Bp. Kardinal: Kapan anggonmu duwe anak? (Kapan kamu punya anak?)
Bapak saya: Kula sapunika sampun dipun paringi momongan 4. Tiga estri, satunggal jaler. (Saya sekarang diberi 4 anak. Tiga perempuan dan satu laki-laki)
Bp, Kardinal: Oohh ya syukurlah, sing lanang mlebu Seminari?(Oohh ya syukurlah, yang laki-laki masuk seminari?)
Bapak saya: Inggih, nyuwun berkah pangestunipun”. (Betul, minta doa restunya)
Rupanya Bapak Kardinal memang sudah kenal sebelumnya bahwa bapak saya dulu punya anak selalu mati terus tidak mau di-emong (diasuh), lha kok sekarang punya anak di Seminari.
C. "Credidi Propter Quod Locutus Sum"
“Credidi propter quod locutus sum” (2 Korintus 4:13), “Saya telah percaya, maka saya mewartakan” itulah yang menjadi “motto” tahbisan saya. Motto tahbisan itulah yang senantiasa saya hidupi dalam perjalanan imamat saya. Setelah 35 tahun menjalani pelayanan sebagai seorang imam, saya sungguh merasakan dan mengalami betapa karya agung/ajaib telah dikerjakan oleh Tuhan bagi saya. Saya yang notabene hanya seperti ini, boleh mengemban tugas pelayanan sebagai seorang imam selama 35 tahun. Saya bersyukur dan sungguh bersyukur atas semuanya ini. Penyertaan Tuhan seungguh besar dan sungguh agung.
Ternyata gema panggilan dan hal-hal menggelitik dalam hidup saya sungguh terlaksana dan terjadi dalam hidup ini. Oleh karena itu saya merasakan bahwa yang dulu hanya angan-angan itu sekarang menjadi kenyataan, saya hanya dapat BERSYUKUR DAN BERSYUKUR. Semuanya ini bisa berlangsung karena Tuhan yang menyelenggarakan sungguh maha penyayang. Terpujilah nama-Nya.
Mulai sejak kelahiran saya mengalami bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan karena Tuhan yang memberi dan menciptakan sebagai Allah yang Maha penyayang. Perjalanan panggilan juga berjalan lancar-lancar saja sehingga memantapkan niat untuk mengabdikan diri menjadi pelayan umat sebagai seorang imam. Semuanya bisa berjalan ini karena semuanya adalah anugerah Tuhan. Dia telah memberi dan menganugerahkan secara cuma-cuma, maka saya-pun berjuang untuk mewartakan secara cuma-cuma pula. Hidup ini sungguh merupakan anugerah, panggilan dan juga perutusan, dimana Tuhan sendiri yang menyelenggarakan dan menjaganya. Terpujilah nama Tuhan.
Kunjungi Juga:
Taman Doa Alpha dan Omega
D. Semangat “Berkah Dalem” Dalam Menjalani Panggilan
Semangat “Berkah Dalem” yang senantiasa menyertai dalam perjalanan saya menghidupi panggilan sebagai seorang imam ini. Saya merasakan dan mengalami hidup ini adalah “berkah” dari Tuhan dan makanya saya juga berjuang supaya hidupku menjadi “berkah” pula bagi sesama dan bagi apa saja.
Berkah yang melimpah ini saya alami selama menapaki perjalanan 35 tahun menjadi seorang imam ini. Paroki-paroki yang pernah saya layani kalau dilihat secara negatif menjadi terpecah-pecah, namun kalau dipandang secara positif menjadi bermekaran.
Paroki Bunda Kristus Wedi Klaten menjadi 4 paroki (Dalem, Gondang, Wedi, Bayat), Paroki San Inigo Dirjodipuran menjadi 2 paroki (Dirjodipuran dan Sukoharjo), Paroki Katedral Semarang menjadi 2 paroki (Katedral dan Hati Kudus Tanah Mas), Paroki Administratif St. Theresia Jombor Ceper menjadi 2 paroki (Paroki mandiri St. Theresia Jombor dan Paroki Administratif Cawas), Paroki Mater Dei Lampersari Semarang menjadi 2 paroki (Mater Dei smg dan Paroki Administratif St. Petrus Sambiroto). Sungguh agung karya-Mu ya Tuhan.
Semangat “Berkah Dalem” inilah yang senantiasa sya hidupi dalam perjalanan imamat saya. Yaa, sebisanya.. tetapi saya usahakan semaksimal mungkin dan sedapat mungkin dan seturut kemampuan yang ada. Banyak tantangan tetapi saya hanya mengandalkan penyertaan Tuhan sendiri. Dia yang telah memulai, Dia pula yang akan menyelesaikannya pula.
E. Nyanyikanlah Pujian Bagi Tuhan, Sebab Perbuatan Ajaib Yang Dikerjakan Padaku.
Kalau saya merefleksikan diri saya dan siapa diri saya dan kemampuan diri saya, maka saya merasa bahwa yang menjadi cita-cita dan angan-angan saya ini bukan karya saya tetapi seluruhnya buah karya tangan Tuhan. Saya bersyukur kepada-Mu Tuhan diperkenankan mendampingi umat-Mu di paroki-paroki Keuskupan Agung Semarang, diperkenankan mendampingi pembangunan gereja-gereja di paroki-paroki (Sambiroto, Mater Dei Smg, Jombor dst), semuanya ini Hanya Tuhanlah yang menyelenggarakan.
Kami senantiasa bersyukur karena telah diperkenankan untuk menghayati bahwa hidup ini adalah anugerah, panggilan dan perutusan. Semuanya adalah buah karya tangan-Mu. Terpujilan nama Tuhan, Amin Amin dan Alleluia.
“Dia yang Telah Memulai, Dia yang Telah Menyelenggarakan, dan Dia Pula yang Akan Menyelesaikannya”
Nama:
YOHANES SUWARNA SUNU SISWOYO, PR
Tempat, Tanggal Lahir:
Bantul, 31 Desember 1960
Nama Orang Tua:
MS. Padmosiswoyo
Ditahbiskan Imam:
Ganjuran, 19 Juli 1988
Riwayat Pekerjaan / Karya:
- Vikaris Parokial ( 1988-1992 )
Paroki St. Maria Bunda Kristus Wedi Klaten - Vikaris Parokial ( 1992-1996 )
Paroki St. Maria Ratu Rosario Suci, Katedral Randusari Semarang - Pastor Paroki ( 1996-1998 )
Paroki Administratif St. Theresia Jombor, Ceper, Klaten - Pastor Paroki, Ketua PGPM Paroki Mater Dei Semarang ( 1998-2004 )
Paroki Mater Dei Lampersari Semarang - Pastor Paroki, Ketua PGPM Paroki St. Yosep Medari, Sleman ( 2004-2009 )
Paroki St. Yoseph Medari, Sleman, Yogyakarta - Pastor Paroki, Ketua PGPM Paroki St. Theresia Sedayu (2009-2015 )
Paroki St. Theresia Sedayu, Bantul, Yogyakarta - Vikaris Parokial (2015-2017)
Paroki “Maria Regina” Purbowardayan, Surakarta - Pastor Paroki, Ketua PGPM Paroki St. Thomas Bedono (2017-2022)
Paroki St. Thomas Bedono, Jambu, Semarang - Pastor Paroki, Ketua PGPM Paroki St. Maria Diangkat Ke Surga (2022-Sekarang)
Paroki St. Maria Diangkat Ke Surga, Palur, Ngringo, Jaten, Karanganyar
Pendidikan:
- SD ( 1967-1972 )
SD Kanisius Kedon, Bantul, Yogyakarta - SMP ( 1973-1975 )
SMP Kanisius Ganjuran, Bantul, Yogyakarta - SMA ( 1976-1980 )
SMA Seminari Mertoyudan, Magelang - Perguruan Tinggi ( 1980-1985 )
IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (S1) - Perguruan Tinggi ( 1985-1987 )
Studi Teologi Lengkap di IFT Yogyakarta
Oleh:
Romo Yohanes Suwarno Sunu Siswoyo Pr.
Palur, Karanganyar
Mei 2023
Dokumentasi:
Pribadi















